9 for "The Title" / Biography / Gramedia / Iwan Setyawan / Non Fiction / Uncategorized

[Book Review] 9 Summers 10 Autumns

10552747

Judul: 9 Summers 10 Autumns
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia

Paperback, 238 pages

Di kaki Gunung Panderman, di rumah berukuran 6 x 7 meter, seorang anak laki-laki bermimpi. Kelak, ia akan membangun kamar di rumah mungilnya. Hidup bertujuh dengan segala sesuatu yang terbatas, membuat ia bahkan tak memiliki kamar sendiri. Bapaknya, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya. Sementara ibunya, tidak tamat Sekolah Dasar. Ia tumbuh besar bersama empat saudara perempuan. Tak ada mainan yang bisa diingatnya. Tak ada sepeda, tak ada boneka, hanya buku-buku pelajaran yang menjadi “teman bermain”-nya. Di tengah kesulitan ekonomi, bersama saudara-saudaranya, ia mencari tambahan uang dengan berjualan di saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Dan kesempatan memang hanya datang kepada siapa yang siap menerimanya. Dengan kegigihan, anak Kota Apel dapat bekerja di The Big Apple, New York. Sepuluh tahun mengembara di kota paling kosmopolit itu membuatnya berhasil mengangkat harkat keluarga sampai meraih posisi tinggi di salah satu perusahaan top dunia. Namun tak selamanya gemerlap lampu-lampu New York dapat mengobati kenangan yang getir. Sebuah peristiwa mengejutkan terjadi dan menghadirkan seseorang yang membawanya menengok kembali ke masa lalu. Dan pada akhirnya, cinta keluargalah yang menyelamatkan semuanya.

Berawal dari penasaran, kenapa sih buku ini selalu dipajang di rak buku Best Seller Gramedia? Saya yang selama ini tidak terlalu menyukai buku bergenre biografi ini akhirnya memutuskan untuk membelinya. Dan ternyata.. Bagus. Pada bab bab awal saya sempet bingung sama jalan ceritanya. Anak kecil itu asalnya dari mana sih? Kok dia sepertinya dekat secara emosional dengan si penulis, tapi kok tidak pernah dijelaskan asal usulnya, namanya, hanya seperti teman khayalan bagi mas Iwan. Meskipun sampai akhir saya masih tidak mengenal ‘anak kecil’ itu, namun itu tidak terlalu mengganggu saya. Bahkan saya merasa bahwa sayalah anak kecil itu, yang dibawa mas Iwan untuk mengulang lagi masa lalunya di Batu, Malang dengan latar belakang siluet New York.

Ceritanya sebenarnya sederhana, tapi setting kota Malang dan cara bercerita mas Iwan yang tidak menggurui dan sok memotivasi, membuat saya suka dengan buku ini. Ketika membacanya saya jadi terbayang bayang oleh pemandangan alam Desa Batu, Malang. Jadi semakin membangkitkan keinginan saya untuk pergi kesana lagi ^^..

Dibanding buku biografi yang lainnya yang pernah saya baca, buku ini tidak memberikan terlalu banyak motivasi, yang justru malah membuatnya unik dan berkesan. Membaca tulisan mas Iwan membuat saya merasa seperti sedang mendengarkan seorang teman bercerita  🙂

Pemilihan covernya pun menarik, gambaran New York dalam sebuah apel. Simpel, tapi merefleksikan isi bukunya, yaitu impian di dalam benak seorang anak yang dibesarkan dengan kasih sayang orang tuanya dalam keterbatasan fasilitas di kota Apel.

“Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di hati kita. Dan, biarlah memori beristirahat disana. Biarlah kita kunjungi suatu saat.”
― Iwan Setyawan, 9 Summers 10 Autumns

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s