Biography / Gramedia / Jonathan Stroud / P for "The Title" / Publisher / Travelling / Uncategorized

[Book Review] The Bartimaeus Trilogy

unduhan
unduhan (1)
unduhan (2)

Title : The Bartimaeus Trilogy

Author : Jonathan Stroud

Publisher : Gramedia

The Amulet of Samarkand

Nathaniel, si penyihir muda, diam – diam memanggil jin berusia 5.000 tahun bernama Bartimaeus. Tugas untuk Bartimaeus tidak gampang — ia harus mencuri Amulet Samarkand yang berkekuatan dahsyat dari Simon Lovelace, master penyihir yang kejam dan ambisius.

Bartimaeus dan Nathaniel pun terlibat dalam intrik sihir yang penuh darah, pemberontakan, dan pembunuhan.

The Golem’s Eye

Karier Nathaniel di pemerintahan terus meroket. Tapi kelompok pemberontak Resistance terus melakukan pengrusakan di London. Pekerjaan dan nyawa Nathaniel jadi terancam, bukan hanya akibat aksi Kitty dan teman-temannya, tapi juga karena suatu kekuatan yang tak dikenal serta membingungkan.

Nathaniel pun terpaksa melakukan misi berbahaya ke kota musuh, Praha, dan harus memanggil lagi jin menjengkelkan, misterius, dan berlidah tajam, Bartimaeus.

Ptolemy’s Gate

Dua ribu tahun telah berlalu sejak jin Bartimaeus berada di puncak kejayaannya—tak terkalahkan dalam pertempuran dan berteman dengan sang empu penyihir, Ptolemy. Sekarang, karena ia terperangkap di Bumi dan diperlakukan seenaknya oleh masternya, Nathaniel, energi Bartimaeus memudar dengan cepat.

Sementara itu, di dunia bawah tanah London, Kitty Jones yang buron diam-diam melakukan riset tentang sihir dan demon. Ia punya rencana yang diharapkannya akan menyudahi konflik berkepanjangan antara jin dan manusia.

Nathaniel, Kitty, dan Bartimaeus pun harus membongkar konspirasi mengerikan dan menghadapi ancaman paling berbahaya sepanjang sejarah ilmu sihir.

Kali ini, langsung aja ya saya mereview ketiga buku ini sekaligus dalam satu bagian. Ketiga buku ini menceritakan tentang petualangan seorang anak muda bernama Nathaniel dan seekor *eh* seorang jin ‘odong’ bernama Bartimaeus.
Sejak dulu, manusia memperbudak bangsa makhluk halus atas kuasanya, memanggil makhluk halus (atau demon) tersebut dari rumahnya di Dunia Lain untuk diikat dan dipekerjakan di Dunia Bumi. Demon dari dunia lain itu sendiri memiliki tingkatan, mulai dari imp, foliot, jin, afrit dan marid, sesuai dengan tingkat kekuatannya. Demon dapat dipanggil oleh seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan sihir, mencakup bagaimana cara merapalkan mantera yang benar, dan menggambar pentacle dengan tepat dan akurat. Jika terjadi kesalahan ucap ataupun gambar pentacle yang kurang sempurna, si Demon ini bisa berbalik menyerang pemanggilnya. Orang yang mempelajari ilmu sihir dan memanggil demon ini, disebut Penyihir. Tanpa demon, penyihir hanyalah manusia biasa yang tidak punya kekuatan apa apa.
Nah, karena kekuatan penyihir atas demon inilah, para penyihir menempati posisi di pemerintahan London. Tidak ada commoner (rakyat biasa) yang masuk ke dalam kancah politik. Disinilah sumber berbagai konflik di buku ini. Karena berambisi dan diberi kekuasaan lebih, para penyihir saling adu kekuatan dan menjatuhkan lawan politiknya. Saling menusuk dari belakang dan mengkhianati pemerintah yang ada sekarang, agar dapat menggantikan dirinya ke posisi yang lebih tinggi.
Nathaniel, adalah seorang anak laki laki yang sejak kecil “dijual ibunya” untuk dijadikan penyihir oleh pemerintah. Kepedihan Nathaniel atas tindakan orang tuanya itu menjadikan dia anak yang keras, berani, berambisi, dan pintar. Apalagi, sejak saat itu dia hidup bersama Mr. Underwood, yang tidak menyayanginya sebagaimana seorang anak laki laki ingin disayangi dan dilindungi keluarga. Agak ironis juga sebenernya cerita ini.
Karena kepandaian Nathaniel, pada umur 14 tahun diam diam dia bisa memanggil seekor *eh* seorang jin dari Dunia Lain bernama Bartimaues untuk diperbudak. Namun sayangnya, Bartimaeus mengetahui kelemahan Nathaniel, yaitu nama lahirnya (Nathaniel). Seorang penyihir tidak boleh membiarkan nama lahirnya diketahui, karena bisa dimanfaatkan orang lain untuk mencelakakan dirinya.
Di buku pertama, Nathaniel (atau nama samarannya, Mr. Mandrake) mengalami saat saat sulit ketika dia kehilangan orang yang dicintainya, dan hanya bisa sendirian (*ditemani Bartimaeus). Namun berkat kepandaiannya dan ‘pendukung’nya, Bartimaeus, Nathaniel bisa bangkit dan akhirnya mencapai ambisinya, menjadi orang pemerintahan. Di buku buku selanjutnya, menceritakan kelanjutan kisah Nathaniel dalam mempertahankan kariernya di pemerintahan, serta kemunculan pemberontak commoner bernama Resistance.
Saya suka banget sama petualangan petualangan di buku ini. Konflik kepercayaan, intrik politik, misteri yang perlu diungkap, dibumbui dengan fantasy tentang demon, dunia lain, dan alat alat magis seperti sepatu yang bisa mempersingkat jarak, kalung yang dapat menyerap kekuatan gaib, serta cermin pengintai. Itu, dan ditambah lagi karakter karakter yang menawan, membuat saya cintaaa banget sama buku ini. Yah, fifty fifty lah sama Harry Potter. Tapi di Harry Potter pun ga ada tokoh yang sekocak Bartimaeus. Insya Allah nanti saya ulas tokoh Bartimaeus dalam sebuah postingan tersendiri.
Yang jelas, saya katakan, saya tertipu dengan covernya. Kehadiran Bartimaeus membuat saya senyum senyum sendiri bahkan ketawa terpingkal pingkal. Bartimaeus keren banget lah pokonya.
Cerita ini dibagi dalam per bab setiap bukunya. Per bab itu menceritakan berbagai sudut pandang, mulai dari Nathaniel, Bartimaeus, dan Kitty. Kitty ini adalah seorang anggota Resistance. Menarik juga, bagaimana pada awalnya Kitty adalah tokoh antagonis, dibalik menjadi protagonis dalam cerita ini. Kehadiran Kitty dalam cerita ini memberikan warna tersendiri dan ga bisa ditebak, beda sama Nathaniel yang tindakan dan pemikirannya mudah ditebak. Dan saya senang sekali ketika ketiga trio ini, Nathaniel, Kitty dan Bartimaeus bertemu. Salah satu yang saya suka ketika di Ptolemy’s Gate, Kitty menengahi Nathaniel yang bertengkar dengan Bartimaeus yang suka iseng ngegodain orang.
Selain petualangan, ada juga beberapa hikmah berserakan dari cerita di buku ini. Bahwa kadang, yang kita anggap benar selama ini ternyata salah, namun kita terlalu naif menganggap itu sebuah kesalahan, hingga semuanya terlambat.
Ada juga ‘keseriusan yang mendalam’ pada cerita ini, ketika Nathaniel akhirnya menemukan dirinya yang dulu lagi. Nathaniel, bocah laki laki yang punya hati nurani, bukan Mr. Mandrake, orang yang haus jabatan dan hanya memikirkan ambisi. Kita bakalan nemuin kata kata mutiara itu dalam cerita ini langsung lewat sudut pandang Nathaniel.

My Rating for This Book: 8,9/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s