Uncategorized

[Book Review] Inkheart (Inkworld #1)

Paperback, 536 pages,
Published January 2009 by PT Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis (from the book)

Ayah Meggie—namanya Mo—memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Maka bermunculanlah tokoh dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peter Pan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah.
Situasi makin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya!

 

Comment(s)

Honestly, sebelum saya baca buku ini, saya udah nonton filmya duluan setahun lalu. Menurut saya, jauh lebih seru nonton filmnya, karena saya kurang menikmati ceritanya. Antara terjemahannya yang nggak enak dibaca, ukuran buku yang besar didukung kertas yang tidak bagus, atau ceritanya sendiri yang muter muter, saya sering meninggalkan buku ini untuk terus dibaca, sayang  sekali. Padahal menurut saya petualangannya cukup seru.

Bagian yang paling saya suka adalah karakter pecinta buku yang digambarkan si penulis, dan saya masih ingat salah satu adegan filmnya dimana Meggie sedang membaca buku disebuah perpustakaan. Itu adalah perpustakaan yang paling bagus yang pernah saya lihat, dengan sofa cozy yang jendelanya menghadap danau.
Dalam versi bukunya, Stubfinger belum kembali kedalam ceritanya dan masih hidup didunia kita. Makanya ada lanjutan serial Inkheart ini, Inkspell dan Inkdeath. Sayangnya, kedua buku lanjutannya harganya mahal sekali (meskipun memang tebal dan kertasnya lebih bagus). Saya berharapnya suatu saat kedua buku itu masuk rak obral Gramedia :3 *update: akhirnya buku keduanya bisa saya beli, alhamdulillah..*

Setelah saya lihat lagi, ternyata buku ini termasuk buku yang banyak diterjemahkan ke beberapa bahasa, lho! Karna ceritanya menarik, dan cocok untuk berbagai usia kali ya, just like Harry Potter. Tambahan untuk penulis, sebenarnya akan lebih seru jika tokoh didunia Inkworld itu ‘hidup’ dan turut ambil bagian dalam cerita. Ya misalnya aja Tinkerbell. Bagus banget penulis sudah menceritakan kemunculan Tink berkat lidah ajaib Meggie, tapi hanya sampai disitu saja. Saya lupa apakah Tink berperan dalam membantu Meggie untuk kabur dari Capricorn, tapi alangkah indahnya jika dibuat seperti itu. So I mean, semua yang masuk ke dalam cerita setidaknya punya satu peranan penting, tidak sekedar muncul saja.

We all know Farid, Stubfinger, Capricorn and Basta, tapi seneng aja  gitu kalau ada tambahann pemeran lain yang lebih dulu kita kenal dalam buku berpartisipasi dalam cerita ini. Semoga aja buku keduanya lebih baik, ya.

Advertisements

One thought on “[Book Review] Inkheart (Inkworld #1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s