Uncategorized

[Book Review] An Artist of The Floating World

An Artist of The Floating World by Kazuo Ishiguro

3.71 / 5 (5,285 ratings)

Publisher : Elex Media Komputindo

Translator : Rahma Wulandari

Release Date : February 6th 2013 by Elex Media Komputindo (first published 1986)

Format : Paperback, 232 pages

Source : Free from a giveaway (sent by Rahma Wulandari)

Genre : Asian Literature

Dalam An Artist of Floating World, Kazuo Ishiguro menyuguhkan tampilan otentik Jepang pasca perang, Jepang yang `mengambang` karena perubahan perilaku dan budaya.

Ishiguro yang lahir di Nagasaki pada tahun 1954 – tetapi pindah ke Inggris pada tahun 1960 – menulis kisah Masuji Ono, seorang seniman bohemian dan penyedia kehidupan malam yang menjadi propagandis imperialisme Jepang selama masa perang.

Tetapi kini perang telah berakhir dan Jepang kalah. Istri dan anak Ono terbunuh. Apa yang tersisa pada Ono? Inilah kisah yang membawa Ishiguro meraih penghargaan Whitbread Prize pada tahun 1986.


Buy this book on : BukuKita  || Amazon || BookDepository

Read this book for free: contact me

_______________________


Novel bersetting Jepang kedua yang pernah saya baca, setelah A Note from Ichiyo. Kedua buku ini saya dapat sebagai hadiah dari giveaway, and I really want to say thank you very much, not because of giving me the books, tetapi juga karena memberikan warna baru buat hobi membaca saya. I found that reading a japanesse novel is really enjoyable and historical.

Yang membuat saya terkesan sama novel ini.. Kejujuran ceritanya. Ceritanya mengalir begitu aja, tidak ada konflik berarti, tidak ada arah tertentu. Layaknya mendengar seorang kakek bercerita kepada teman sebayanya tentang perjalanan hidupnya. Alur ceritanya maju dan mundur, melompat – lompat. Lucu juga sih, karena ketika sudah fokus sama sebuah timeline, kita kita akan dibawa lagi ke timeline yang lain. Makanya, di buku ini banyak banget cerita yang diawali dengan ‘bercerita tentang ini, saya jadi teringat…..’, dan akhirnya ceritanya nyambung lagi ke lain tempat. Rasanya jadi seperti mendengar seseorang mengulang masa hidupnya, kan?

Kekurangannya, saya awalnya agak tersesat dengan plot yang berpindah-pindah dan cerita yang tidak ada arah pastinya. Namun, jika mengabaikan alur dan hanya fokus pada kata-katanya, sebenarnya cukup asyik juga membacanya.


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s